Menemukan Liburan Hits di Pedalaman Aceh: Pengalaman Pribadi

Saya baru saja pulang dari liburan singkat ke sebuah desa di kaki Gunung Leuser, Aceh Tengah. Tempat ini belum banyak tercantum di brosur wisata, tapi namanya mulai menyebar di kalangan backpacker sebagai destinasi liburan hits. Bermodal tanya-tanya ke teman sesama perantau di Bireuenkota, saya memutuskan untuk mengeksplorasi sendiri. Perjalanan dari Bireuen memakan waktu sekitar empat jam dengan sepeda motor, melewati jalan berkelok dan hamparan kebun kopi yang menghijau.
Menikmati Liburan Hits di Pedalaman Aceh
Begitu tiba, saya langsung disambut oleh udara pegunungan yang sejuk dan senyum hangat pemilik homestay. Ia menawarkan kamar sederhana dengan harga Rp100 ribu per malam. Tidak ada AC, tapi alam sudah menyediakan pendingin alami. Pagi harinya, saya diajak berjalan kaki ke air terjun setinggi 25 meter yang hanya berjarak 20 menit dari desa. Jalan setapak masih alami, berlumut, dan sesekali harus menyeberangi sungai kecil. Sesampainya di bawah air terjun, saya mandi sepuasnya—sensasi yang tidak akan saya dapat di kolam renang hotel mewah.
Setelah itu, saya mampir ke kedai kopi milik tetangga homestay. Gayo memang terkenal, tapi minum kopi langsung di kebunnya adalah pengalaman berbeda. Saya ngobrol dengan petani sambil melihat proses roasting manual. Mereka juga menjual biji kopi dalam kemasan kecil—cocok sebagai oleh-oleh. Harganya hanya Rp25 ribu per bungkus. Saya membeli lima bungkus, sekaligus mendukung UMKM lokal Variasi kasusnya saya kupas di liburan instagramable.
Sore hari, saya bergabung dengan sekelompok traveler asing yang kebetulan menginap di homestay yang sama. Kami duduk di beranda, menikmati camilan pisang goreng, dan berbagi cerita perjalanan. Salah satu dari mereka, seorang perempuan dari Jerman, bercerita bahwa ia mendapat info tempat ini dari blog perjalanan di Wikipedia Indonesia. Dari situlah saya tahu bahwa desa ini sudah masuk dalam peta wisata alternatif.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa liburan hits tidak selalu berarti tempat ramai atau mahal. Terkadang, keindahan justru tersembunyi di sudut yang membutuhkan usaha lebih untuk dicapai. Bagi Anda yang tinggal di Sumatra Utara atau Aceh, saya sangat merekomendasikan untuk menyisihkan akhir pekan menjelajahi desa-desa seperti ini. Bawa bekal, kamera, dan semangat bertualang. Saya yakin, Anda akan pulang dengan cerita sendiri yang tak kalah seru.
Referensi: sumber resmi